Minggu, 12 April 2009
di
13:47
|
Garam dan telaga
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu hari, datanglah seorang anak muda yang dirudung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet. Tamu itu memang tampa seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu langsung menceritakan masalahnya. Pak Tua yang bijak hanya mendengarkan dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini dan katakana bagaimana rasanya..” ujar Pak Tua itu.
“Pahit. Pahit sekali” jawab [pemuda itu sambil meludah kesamping
Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak pemuda itu berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang ini berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah keduanya ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak tua kembali menaburkan segenggam garam kedalam telaga itu. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang mengaduk aduk dan tercipta riak air. Mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”. Saat pemuda tadi selesai mereguk air, Pak Tua kembali bertanya. “Bagaimana rasanya?”
“Segar” sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di air tadi?” Tanya Pak Tua. “Tidak” Jawab pemuda itu.
Dengan bijak Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya dudk berhadapan. Bersimpuh disamping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya sama, dan memang akan tetap sama.
Tapi kepahitan yang kita rasakan tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu diadasarkan dari tempat kita meletakkannya. Ityu semua tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup. Hanaya ada satu hal yang mesti kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luangkanlah hatimu untuk menampung semua kepahitan itu”
Pak tua kembali memberikan nasehat. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buat laksana telaga yang mamapu meredam segala kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama belajar hari itu. Dan pak tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam” untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu hari, datanglah seorang anak muda yang dirudung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet. Tamu itu memang tampa seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu langsung menceritakan masalahnya. Pak Tua yang bijak hanya mendengarkan dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini dan katakana bagaimana rasanya..” ujar Pak Tua itu.
“Pahit. Pahit sekali” jawab [pemuda itu sambil meludah kesamping
Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak pemuda itu berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang ini berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah keduanya ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak tua kembali menaburkan segenggam garam kedalam telaga itu. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang mengaduk aduk dan tercipta riak air. Mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”. Saat pemuda tadi selesai mereguk air, Pak Tua kembali bertanya. “Bagaimana rasanya?”
“Segar” sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di air tadi?” Tanya Pak Tua. “Tidak” Jawab pemuda itu.
Dengan bijak Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya dudk berhadapan. Bersimpuh disamping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya sama, dan memang akan tetap sama.
Tapi kepahitan yang kita rasakan tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu diadasarkan dari tempat kita meletakkannya. Ityu semua tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup. Hanaya ada satu hal yang mesti kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luangkanlah hatimu untuk menampung semua kepahitan itu”
Pak tua kembali memberikan nasehat. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buat laksana telaga yang mamapu meredam segala kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama belajar hari itu. Dan pak tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam” untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
Diposkan oleh
"Spirit For Better"
Indonesian Rupiah Converter


0 komentar:
Poskan Komentar